Minggu, 19 Desember 2010

MASALAH GIZI DI INDONESIA DAN MASALAH GIZI PADA ANAK

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Gizi
Gizi merupakan unsur yang sangat penting di dalam tubuh. Dengan gizi yang baik, tubuh akan segar dan kita akan dapat melakukan aktivitas dengan baik. Gizi harus dipenuhi justru sejak masih anak-anak, karena gizi selain penting untuk pertumbuhan badan, juga penting untuk perkembangan otak. Untuk itu, orang tua harus mengerti dengan baik kenutuhan gizi si anak tidak mengalami kurang gizi. Selain itu, orang tua juga harus mengetahui apa dan bagaimana kurang gizi itu.

2.2 Masalah Gizi Utama di Indonesia
Indonesia saat ini menghadapi setidak-tidaknya 5 masalah gizi yang dipicu berbagai factor dalam kehidupan masyarakat. Ke lima masalah gzi tersebut adalah Kurang Energi Protein (KEP), Kurang vitamin A (KVA), Gangguan akibat kekurangan Yodium (GAKY), Anemia Gizi Besi (AGB), gizi berlebih (OBESITAS).
Penyebab masalah gizi di Indonesia secara langsung di pengaruhi oleh tidak cukupnya asupan zat gizi dan penyakit infeksi. Adapun penyebab secara tidak langsung, antara lain jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan, pola asuh yang tidak memadai, rendahnya ketahanan pangan tingkat rumah tangga, kemiskinan, pengangguran, serta dampak social Budaya dan politik,
Terdapat beberapa fakta yang terkait dengan masalah gizi di Indonesia yang memerlukan penanganan segera dimulai dari tingkat individu, keluarga, dan secara nasional, karena masalah gizi di tiap wilayah berbeda baik jenis masalah, besaran maupun factor penyebabnya.
“pola asuh juga merupakan salah satu factor penting yang mempengaruhi status gizi”. Data makro kesehatan menunjukan bahwa Selama 10 tahun terakhir tercatat tingkat asupan energy rata-rata perkapita di Indonesia tidak mengalami peningkatan berarti, dan terjadi perubahan gaya hidup berupa pergeseran pola makan yang tinggi lemak dan rendahnya indeks aktivitas.

2.2.1 Kekurangan Energi Protein (KEP)
 Adalah penyakit gizi akibat defisiensi energy dalam jangka waktu yang cukup lama.
 Pada derajat ringan pertumbuhan kurang, tetapi kelainan biokimiawi dan gejala klinis (marginal malnutrition)
 Derajat berat adalah tipe kwashiorkor dan tipe marasmus atau tipe marasmik-kwashiokor
 Terdapat gangguan pertumbuhan, muncul gejala klinis dan kelainan biokimiawi yang khas.
Penyebab KEP
• Masukan makanan atau kuantitas dan kualitas rendah
• Gangguan system pencernaan atau penyerepan makanan
• Pengetahuan yang kurang tentang gizi
• Konsep klasik diet cukup energy tetapi kurang protein menyebab kwashiorkor
• Diet kurang energy walaupun zat gizi esensial seimbang menyebabkan maraasmus
• Kwashiorkor terjadi pada hygiene yang buruk, yang terjadi pada penduduk desa yang mempunyai kebiasaan memberikan makanan tambahan tepung dan tidak cukup mendapatkan ASI
• Terjadi karena kemiskinan sehingga timbul malnutrisi dan infeksi
Gejala klinis KEP ringan
 Pertumbuhan mengurang atau berhenti
 BB berkurang, terhenti bahkan turun
 Ukuran lingkar lengan menurun
 Maturasi tulang terlambat
 Rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun
 Tebal lipat kulit normal atau menurun
 Aktivitas dan perhatian kurang
 Kelainan kulit dan rambut jarang ditemukan
Ada 2 bentuk KEP yaitu marasmus dan kwashiorkor. Baik marasmus maupun kwashiorkor keduanya disebabkan oleh kekurangan protein. akan tetapi pada marasmus di samping kekurangan protein terjadi juga kekurangan energy. Sedangkan pada kwashiorkor yang kurang hanya protein, sementara kalori cukup. Maraasmus terjadi pada anak usia yang sangat muda yaitu pada bulan pertama setelah lahir, sedangkan kwashiorkor umunya ditemukan pada usia 6 bulan sampai 4 tahun.
Marasmus adalah kekurangan energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai sehingga anak menjadi “kurus” dan “emosional”.
Penyebab Marasmus
• Ketidakseimbangan konsumsi zat gizi atau kalori didalam makanan
• Kebiasaan makanan yang tidak layak
• Penyakit-penyakit infeksi saluran pencernaan

Tanda dan gejala
 Wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus
 Mata besar dan dalam, sinar mata sayu
 Mental cengeng
 Faces lunak atau diare
 Rambut hitam, tidak mudah dicabut
 Jaringan lemak sedikit atau bahkan tidak ada, lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit menghilang
 Kulit keriput, dingin, kering dan mengendur
 Torax atau sela iga cekung
 Atrofi otot, tulang terlihat jelas
 Tekanan darah lebih rendah dari usia sebayanya
 Frekuensi nafas berkurang
 Kadar Hb berkurang
 Disertai tanda-tanda kekurangan vitamin
Kwashiorkor adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein dan sering timbul pada usia 1-3 tahun karena pada usia ini kebutuhan protein tinggi.Meski penyebab utama kwashiorkor adalah kekurangan protein, tetapi karena bahan makanan yang dikonsumsi kurang menggandung nutrient lain serta konsumsi daerah setempat yang berlainan, akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara.
Penyebab Kwashiokor
• Kekurangan protein dalam makanan
• Gangguan penyerapan protein
• Kehilangan protein secara tidak normal
• Infeksi kronis
• Perdarahan lebat

Tanda dan Gejala
 Wajah seperti bulan “moon face”
 Pertumbuhan terganggu
 Sinar mata sayu
 Lemaas-lethargi
 Perubahan mental (sering menangis, pada stadium lanjut menjadi apatis)
 Rambut merah, jarang, mudah dicabut
 Jaringan lemak masih ada
 Perubahan warna kulit (terdapat titik merah kemudian menghitam, kulit tidak keriput)
 Iga normal-tertutup oedema
 Atrofi otot
 Anoreksia
 Diare
 Pembasaran hati
 Anemia
 Sering terjadi acites
 Oedema
Kwashiorkor-marasmik memperlihatkan gejala campuran antara marasmus dan kwashiorkor
Penatalaksanaan
Secara umum
• Ruangan cukup hangat dan bersih
• Posisi tubuh diubah-ubah (karena mudah terjadi dekubitus)
• Pencegahan infeksi nosokomial
• Penimbangan BB tiap hari
Secara khusus
Resusitasi dan terapi komplikasi
• Koreksi dehidrasi dan asidosis (pemberian cairan oralit atau infus)
• Mencegah atau mengobati defisiensi vitamin A
• Terapi Ab bila ada tanda infeksi atau sakit berat
Dietetik
• Prinsip TKTP dan suplemen vitamin mineral
• Bentuk makanan disesuaikan secara individual (cair, lunak, biasa, makanan dengan porsi sedikit-sedikit tapi sering)
• Pemantauan masukan makanan tiap hari (perubahan diet biasanya dilakukan setiap saat)

Persiapan pulang
• Gejala klinik tidak ada
• Nafsu makan baik
• Pembekalan terhadap orang tua tentang gizi, perilaku hidup dan lingkungan yang sehat
Komplikasi
• Infeksi saluran pencernaan
• Defisiensi vitamin
• Depresi mental
Program pemerintah –penanggulangan KEP
Diprioritaskan pada daerah-daerah miskin dengan sasaran utama
• Ibu hamil
• Bayi
• Balita
• Anak-anak sekolah dasar
Keterpaduan kegiatan
• Penyuluhan gizi
• Peningkatan pendapatan
• Peningkatan pelayanan kesehatan
• Keluarga berencana
• Peningkatan peran serta masyarakat
Kegiatan
Peningkatan upaya pemantauan tumbuh kembang anak melalui keluarga, dasawisma dan posyandu.

Penanganan secara khusus KEP berat
• Rujukan pelayanan gizi di posyandu
• Peningkatan gerakan sadar pangan dan gizi
• ASI eksklusif
Pencegahan
Makin makanan yang bervariasi dan cukup mengandung kalori dan protein – termasuk makanan pokok seperti nasi, ubi dan kentang setiap hari dan makanan yang mengandung protein seperti daging, ikan, kacang-kacangan atau susu sekurang-kurangnya sehari sekali. Minyak dari kelapa atau mentega dapat ditambahkan pada makanan untuk meningkatkan pasokan kalori, terutama pada anak-anak atau remaja yang tidak terlalu suka makan.
Hanya member ASI kepada bayi sampai usia 6 bulan mengurangi resiko mereka terkena muntah dan mencret (muntaber) dan menyediakan cukup gizi berimbang. Jika ibu tidak biasa atau tidak mau memberikan ASI, sangat penting bagi bayi untuk mendapatkan susu formula untuk bayi yang dibuat dengan air bersih yang aman – susu sapi normal tidaklah cukup sejak 6 bulan, sebaiknya tetap diberikan ASI tapi juga berikan 3-6 sendok makan variasi makanan termasuk yang mengandung protein.
Remaja dan anak-anak yang sedang sakit sebaiknya tetap diberikan makanan dan minuman yang cukup.
Kurang gizi juga dapat dicegah secara bertahap dengan mencegah cacingan, infeksi, muntaber melalui sanitasi yang baik dan perawatan kesehatan, terutama mencegah cacingan.

Angka statistic di Indonesia
Tahun 2004 37% balita (bawah lima tahun/bayi) kekurangan berat badan (28% kekurangan berat badan sedang dan 9% kekurangan berat badan akut (a little beat confused about it) (sumber susenas 2004). Pemerintah mempunyai program makanan tambahan sehingga perempuan dan anak-anak yang terdeteksi memiliki berat badan kurang akan diberi makanan tambahan dan saran ketika mereka dating ke puskesmas untuk memantau pertumbuhan.

2.2.2 Kekurangan Vitamin A (KVA)
Vitamin A diperlukan untuk penglihatan. Vitamin tersebut merupakan bagian penting dari penerima cahaya dalam mata. Selain itu vitamin A juga diperlukan untuk mempertahankan jaringan ari dalam keadaan sehat. Kulit, pinggiran dan penutup berbagai bagian tubuh, seperti kelopak mata, mata, hidung, mulut, paru-paru dan tempat pencernaan, kesemuanya dikenal sebagai jaringan ari.
Vitamin A juga mempunyai beberapa fungsi yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan vitamin A pertumbuhan menjadi terhambat dan rangka tubuh berhenti tumbuh.
Tanda awal dari kekurangan vitamin A adalah tureunnya kemapuan melihat dalam cahaya samar. Penderita sama ssekali tidak dapat melihat apabila memasuki ruangan yang agak gelap secara tiba-tiba. Penyakit ini umumnya diderita oleh anak-anak.
Prevalensi kurang vitamin A
Prevalensi dari defisiensi klinis diperkirakan dari rabun senja, bintik bitot, dan xeropthalmia. Prevalensi klinis KVA di asia cukup rendah, berkisar antara 0,5% di srilanka sampai 4,6% di Bangladesh pada anak-anak (allen and Gillespie, 2001). Prevalensi lebih dari 1% dianggap menjadi masalah kesehatan masyarakat. Di Indonesia prevalensi kekurangan vitamin A pada tahun 1970 adalah berkisar antara 2-7%. Turun menjadi 0,33 % pada tahun 1992, dan dinyatakan bebas masalah xeropthalmia, namun tetap perlu waspada karena 50% balita masih menunjukkan kadar vitamin dalam serum <20 mcg/dl. (direktorat gizi masyarakat, 2003) Penyebab KVA • Intake makanan yang mengandung vitamin a kurang atau rendah • Rendahnya konsumsi vitamin A dan pro vitamin A pada bumil sampai melahirkan akan memberikan kadar vitamin A yang rendah pada ASI • MP-ASI yang kurang mencukupi kebutuhsn vitamin A • Gangguan absorbs vitamin A atau pro vitamin A (penyakit pancreas, diare kronik, KEP dll) • Gangguan konversi pro vitamin A menjadi vitamin A pada gangguan fungsi kelenjar tiroid • Kerusakan hati (kwashiorkor, hepatitis kronik) Sifat  Mudah teroksidasi  Mudah rusak oleh sinar ultraviolet  Larut dalam lemak Tanda dan Gejala  Rabun senja-kelainan mata, xerosis konjungtiva, bercak bitot, xerosis kornea  Kadar vitamin A dalam plasma < 20 ug/dl Pencegahan Makan makanan yang mengandung vitamin A – misalnya daun-daun hijau, tomat, wortel, mangga, ikan, telur, jeruk, papaya, labu, kentang dan red oil. Angka static di Indonesia . promosi kesehatan pemerintah menyatakan bahwa kapsul vitamin A harus diterima oleh seorang perempuan paada 40 hari setelah melahirkan dan setiap 6 bulan untuk setaip anak antara 6 bulan sampai 5 tahun, dan program ini berhasil dan tahun 1999 WHO melaporkan bahwa 64% balita telah menerima kapsul vitamin A dan tahun 1995 hanya 0,3% anak yang menderita kekurangan vitamin A. 2.2.3 GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY)  Adalah sekumpulan gejala yang dapat ditimbulkan karena tubuh menderita kekurangan yodium secara terus menerus dalam waktu yang lama.  Merupakan masalah dunia  Terjadi pada kaawasan pegunungan dan perbukitan yang tanahnya tidak cukup mengandung yodium  Defisiensi yang berlangsung lama akan menggangu fungsi kelenjar tiroid yang secara perlahan menyebabkan pembesaran kelenjar gondok. Prevalensi Gangguan Akibat Kekurangan Iodium WHO, UNICEF dan International Coordinating Committee on Iodine Defeciency Disorders (ICCIDD) mengklasifikasikan dari 191 negara, 68,1% dengan masalah GAKI, 10,5% sudah dapat mengatasi masalah GAKI dan sisanya tidak diketahui masalah besarnya masalah GAKI (Allen and Gillespie,2001). Prevalensi secara nasional pada tahun 1980 sekitar 30% menurun menjadi 9,8% pada tahun 1998. Namun prevalensi pada propinsi-propinsi tertentu masih cukup tinggi, misalnya di NTT 38,1%, Maluku 33,3%, SulTeng 24,9%, dan Sumbar 20,5%. Propinsi NTT dan Maluku dikategorikan mempunyai masalah GAKI yang berat, SulTeng dan SumBar dikategorikan mempunyai masalh GAKI sedang, sedangkan propinsi-propinsi yang lain mempunyai masalah GAKI rinngan atau tidak mempunyai masalah GAKI (Direktorat Gizi Masyarakat,2003) Dampak • Pembesaran kelenjar gondok • Hipotiroid • Kretinisme • Kegagalan • Kematian Defisiensi pada Janin • Dampak dari kekurangan yodium pada ibu • Meningkatkan insiden lahir mati, aborsi, cacat lahir • Terjadi kretinisme endemis • Jenis syaraf (kemunduran metal, bisu-tuli, diplegia spatik) • Miksedema (memperlihatkan gejala hipotiroid dan dwarfisme) Defisiensi pada BBL • Penting untuk perkembangan otak yang normal • Terjadi penurunan kognitif dan kinerja motorik pada anak usia 10-12 tahun pada mereka yang dilahirkan dari wanita yang mengalami defisiensi yodium. Defisiensi pada anak  Puncak kejadia pada masa remaja  Prevalensi wanita lebih tinggi dari laki-laki  Terjadi gangguan kinerja belajar dan nilai kecerdasan Klasifikasi tingkat pembesaran kelenjar menurut WHO (1990)  Tingkat 0: tidak ada pembesaran kelenjar  Tingkat IA : kelenjar gondok membesar 2-4x ukuran normal, hanya dapat diketahui dengan palpasi, pembesaran tidak terlihat pada posisi tengadah maksimal  Tingkat IB : hsnys terlihat pada posisi tengadah maksimal  Tingkat II : terlihat pada posisi kepala normal dan dapat dilihat dari jarak ± 5 meter  Tingakt III : terlihat nyata dari jarak jauh. Sasaran  Ibu hamil  WUS Dosis dan kelompok sasaran pemberian kapsul yodium • Bayi < 1 tahun : 100 mg • Balita 1-5 tahun : 200 mg • Wanita 6-35 tahun : 400 mg • Ibu hamil (bumil) : 200 mg • Ibu meneteki (buteki) : 200 mg • Pria 6-20 tahun : 400 mg GAKY tidak berhubungan dengan tingkat sosek melainkam dengan geografis Spektrum gangguan akibat kekurangan yodium  Fetus : abortus, lahir mati, kematian perinatal, kematian bayi, kretinisme nervosa (bisu tuli, defisiensi mental, mata juling), cacti bawaan, kretinisme miksedema, kerusakan psikomotor  Neonates : gangguan psikomotor, hipotiroid neonatal, gondok neonates  Anak dan remaja : gondok, hipotiroid juvenile, gangguan fungsi mental (IQ rendah), gangguan perkembangan  Dewasa : gondok, hipotiroid, gangguan fungsi mental, hipertiroid diimbas oleh yodium Sumber makanan beryodium yaitu makanan dari laut seperti ikan, rumput laut dan sea food, sedangkan penghambat penyerapan yodium (goitrogenik) seperti kol, sawi, ubi kayu, ubi jalar, rebung, buncis, makanan yang panas, pedas dan rempah-rempah. .Pencegahan / penanggulangan  Fortifikasi : garam  Suplementasi : tablet, njeksi lipiodol, kapsul minyak beryodium Pencegahan Makan makanana yang kaya akan kandungan yodium alami seperti ikan, makanan laut dan ganggang laut dan tanaman yang tumbuh didaerah dengan tanah yang mengandung yodium, garam beryodium dan suplemen yang mengandung yodium. Angka statistic di Indonesia Kekurangan yodium merupakan masalah di wilayah pedalaman di bagian wilayah yang miskin di inonesia, dimana makanan laut mahal atau tidak teersedia, dan tanah miskin kandungan iodium karena hujan melepaskannya. Garam beriodium tersedia tapi banyak orang lebih memilih garam tidak beriodium karena harganya lebih murah. WHO melaporkan bahwa masih ada 46% rumah tangga di Indonesia yang tidak menggunakan garam beeriodium dan 10% anak sekolah yang mengalami kekurangan iodium. Pemerintah Indonesia merekomendasikan agar semua wanita usia subur (WUS) di daerah yang kekurangan iodium harus menerima suplemen iodium setiap 6 bulan dari puskesmas 2.2.4 Anemia Gizi Besi (AGB) ANEMIA Anemia defisiensi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan satu atau beberapa bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit. Keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht) dari eritrosit lebih rendah dari nilai normal, akibat defisiensi salah satu atau beberapa unsure makanan yang ensensial yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut. Macam-macam anemia Anemia defisiensi besi adalah anemia karena kekurangan zat besi atau sintesa hemoglobin. Anemia megaloblastik adalah terjadinya penurunan produksi sel darah merah yang matang, bisadiakibatkan defisiensi vitamin B12. Anemia aplastik adalah anemia yang berat, leucopenia dan trombositopenia, hipoplastik atau aplastik. ANEMIA DEFISIENSI BESI • Prevalensi tertinggi terjadi di daerah miskin, gizi buruk dan penderita infeksi • Hasil studi menunjukan bahwa anemia pada masa bayi mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya disfungsi otak permanen • Defisiensi zat besi menurunkan jumlah oksigen untuk jaringan, otot kerangka, menurunya kemampuan berfikir serta perubahan tingkah laku. Ciri  Akan memperlihatkan respon yang baik dengan pemberian preparat besi  Kadar Hb meningkat 29% setiap minggu Prevalensi Anemia gizi besi Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan sekitar 40% dari penduduk di dunia (lebih dari 2 milyar jiwa0 terkena anemia. Kelompok yang paling tinggi prevalensinya adalah wanita hamil dan orang tua yaitu sekitar 50%, bayi dan anak umur 2 tahun 48%, anak sekolah 40%, wanita tidak hamil 35%, adolescent 30%– 55% dan anak prasekolah 25%. Prevalensi anemia di Negara berkembang sekitar empat kali lebih besar di bandingkan dengan Negara-negara maju. Diperkirakan prevalensi anemia untuk anak sekolah di Negara berkembangdan maju adalah 53% dan 9% anak prasekolah 42% dan 17% . prevalensi AGB di Indonesia pada satu tahun pertama kehidupan masih di atas 60% walaupun angkanya menurun sejalan dengan bertambahnyausia anak, namun prevalensinya masih tinggi yaitu 32,1% pada anak usia 48-59 bulan. Menurut WHoanemia dikatakan menjadi masalah kesehatan masyarakat jika prevalensi di suatu Negara yaitu < 15-40% adalah sedang dan >40% adalah tinggi (dikorat gizi masyarakat,2003)

Tanda dan Gejala
 Pucat (konjungtiva, telapak tangan, palpebra)
 Lemah
 Lesu
 Hb rendah
 Sering berdebar
 Papil lidah atrofi
 Takikardi
 Sakit kepala
 Jantung membesar




Dampak
 Produktivias rendah
 SDM untuk generasi berikutnya rendah


Penyebab
Sebab langsung
• Kurang asupan makanan yang mengandung zat besi
• Mengkonsumsi makanan penghambat penyerapan zat besi
• Infeksi penyakit

Sebab tidak langsung
• Distribusi makanan yang tidak merata ke seluruh daerah

Sebab mendasar
• Pendidikan wanita rendah
• Ekonomi rendah
• Lokasi geografis (daerah endemis malaria)

Kelompok sasaran prioritas
• Ibu hamil dan menyusui
• Balita
• Anak usia sekolah
• Tenaga kerja wanita
• Wanita usia subur

Penanganan
 Pemberian komunikasi informasi dan edukasi (KIE) serta suplemen tambahan pada ibu hamil maupun menyusui
 Pembekalan KIE kepada kader dan orang tua serta pemberian suplemen dalam bentuk multivitamin kepada balita
 Pembekalan KIE kepada guru dan kepala sekolah agar lebih memperhatikan keadaan anak usia sekolah serta pemberian suplemen tambahan kepada anak sekolah
 Pembekalan KIE pada perusahaan dan tenaga kerja serta pemberian suplemen kepada tenaga kerja wanita
 Pemberian KIE dan suplemen dalam bentuk pil KB kepada wanita usia subur (WUS)
Pencegahan
Makan makanan yang mengandung zat besi – makanan yang kaya (zat besi) misalnya daging, ikan, telur, sayuran hijau, kacang-kacangan, kacang tanah, tahu dan tempe. Makanan-makanan ini juga sangat penting untuk ibu hamil dan anak sejak usia 6 bulan.
Strategi penting lainnya untuk memerangi kekurangan zat besi adalah dengan mencegah dan mengobati malaria – terutama paada saat hamil, pendidikan mengenai KB, menganjurkan untuk menjaga jarak dan mengurangi kehamilan dan pencegahan terhadap cacing di usus dan keteraturan pengobatan untuk cacingan.

Angka static di Indonesia
WHO melaporkan bahwa 6,4% perempuan hamil di Indonesia mengalami kekurangan zat besi pada tahun 2000. Makan yang kaya akan zat besi biasanya sulit didapat oleh keluarga yang miskin, dan malaria serta cacing juga merupakan masalah di banyak tempat di Indonesia. Di wilayah yang miskin adalah sesuatu yang biasa jika sebuah keluarga memiliki 10 orang anak walaupun program KB suddah dijalankan. Pemerintah merekomendasikan agar perempuan hamil dan balita harus mendapatkan suplemen yang mengandung zat besi harian dari puskesmas.

2.2.5 OBESITAS
• Adalah penyakit gizi yang disebabkan kelebihan kalori dan ditandai dengan akumulasi jaringan lemak secara berlebihan diseluruh tubuh.
• Merupakan keadaan patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh
• Gizi lebih (over weight) dimana berat badan melebihi berat badan rata-rata, namun tidak selalu identik engan obesitas.

BB >>> tidak selalu obesitas


Penyebab
 Perilaku makan yang berhubungan dengan factor keluarga dan lingkungan
 Aktivitas fisik yang rendah
 Gangguan psikologis (bias sebagai sebab atau akibat)
 Laju pertumbuhan yang sangt cepat
 Genetic atau factor keturunan
 Gangguan hormone

Gejala
 Terlihat sangat gemuk
 Lebih tinggi dari anak normal seumur
 Dagu ganda
 Buah dada seolah-olah berkembang
 Perut menggantung
 Penis terlihat kecil

Terdapat 2 golongan obesitas
 Regulatory obesity, yaitu gangguan primer pada pusat pengatur masukan makanan
 Obesitas metabolic, yaitu kelinan metabolism lemak dan karbohidrat


Resiko / dampak obesitas
 Gangguan respon imunitas seluler
 Penurunan aktivitas bakterisida
 Kadar besi dan seng rendah




Penatalaksanaan
• Menurunkan BB sangat drastic dapat menghentikan pertumbuhannya, pada obesitas sedang, adakalanya penderita tidak memakan terlalu banyak, namun aktifitasnya kurang, sehingga latihan fisik yang intensif menjadi pilihan utama
• Pada obesitas berat selain fisik juga memerlukan terapi diet. Jumlah energy dikurangi, dan tubuh mengambil kekurangan dari jaringan lemak tanpa mengurangi pertumbuhan, dimana diet harus tetap mengandung zat gizi esensial.
• Kurangi asupan energy, akan tetapi vitamin dan nutrisi lain harus cukup, yaitu dengan mengubah perilaku makan
• Mengatasi gangguan psikologis
• Meningkatkan aktivitas fisik
• Membatasi pemakaian obat-obatan yang untuk mengurangi nafsu makan
• Bila terdapat komplikasi, yaitu sesak nafas atau sampai tidak dapat berjalan, rujuk ke rumah sakit
• Konsultasi (psikologi anak atau bagian endokrin).



















BAB III
ISI


3.1 Kebutuhan Gizi anak
Pada usia sekolah ini, anak banyak mengikuti aktivitas, fisik maupun mental, seperti bermain, belajar, berolah raga. Zat gizi akan membantu meningkatkan kesehatan tubuh anak, sehingga sistem pertahanan tubuhnyapun baik dan tidak mudah terserang penyakit. Umumnya orangtua kurang memper-hatikan kegiatan makan anaknya lagi. Mereka beranggapan bahwa anak seusia ini sudah tahu kapan ia harus makan. Di samping itu, anak mulai banyak melakukan kegiatan di luar rumah, sehingga agak sulit mengawasi jenis makanan apa saja yang mereka makan.
Anak usia sekolah membutuhkan lebih banyak energi dan zat gizi dibanding anak balita. Diperlukan tambahan energi, protein, kalsium, fluor, zat besi, sebab pertumbuhan sedang pesat dan aktivitas kian bertambah. Untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi, anak seusia ini membutuhkan 5 kali waktu makan, yaitu makan pagi (sarapan), makan siang, makan malam, dan 2 kali makan selingan. Perlu ditekankan pentingnya sarapan supaya dapat berpikir dengan baik dan menghindari hipoglikemi. Bila jajan harus diperhatikan kebersihan makanan supaya tidak tertular penyakit tifoid, disentri, dan lain-lain. Anak remaja putri sudah mulai haid, sehingga diperlukan tambahan zat besi.


3.2 Tanda kurang Gizi pada anak

Menurut Dr. Sri Kurniati M.S., Dokter Ahli Gizi Medik Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita, kurang gizi pada anak terbagi menjadi tiga. Pertama, disebut sebagai Kurang Energi Protein Ringan. Pada tahap ini, Sri menjelaskan bahwa belum ada tanda-tanda khusus yang dapat dilihat dengan jelas. Hanya saja, berat badan si anak hanya mencapai 80 persen dari berat badan normal. Sedangkan yang kedua, disebut sebagai Kurang Energi Protein Sedang. Pada tahap ini, berat badan si anak hanya mencapai 70 persen dari berat badan normal. Selain itu, ada tanda yang bisa dilihat dengan jelas adalah wajah menjadi pucat, dan warna rambut berubah agak kemerahan. Ketiga, disebut sebagai Kurang Energi Protein Berat. Pada bagian ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu kurang sekali, biasa disebut Marasmus. Tanda pada marasmus ini adalah berat badan si anak hanya mencapai 60 persen atau kurang dari berat badan normal. Selain marasmus, ada lagi yang disebut sebagai Kwashiorkor. Pada kwashiorkor, selain berat badan, ada beberapa tanda lainnya yang bisa secara langsung terlihat. Antara lain adalah kaki mengalami pembengkakan, rambut berwarna merah dan mudah dicabut, kemudian karena kekurangan vitamin A, mata menjadi rabun, kornea mengalami kekeringan, dan terkadang terjadi borok pada kornea, sehingga mata bisa pecah. Selain tanda-tanda atau gejala-gejala tersebut, ada juga tanda lainnya, seperti penyakit penyertanya. Penyakit-penyakit penyerta tersebut misalnya adalah anemia atau kurang darah, infeksi, diare yang sering terjadi, kulit mengerak dan pecah sehingga keluar cairan, serta pecah-pecah di sudut mulut.

3.3 Faktor penyebab

Kurang gizi pada anak, bisa terjadi di usia Balita (Bawah Lima Tahun). “Pedoman untuk mengetahui anak kurang gizi adalah dengan melihat berat dan tinggi badan yang kurang dari normal,” kata Sri. Sri menambahkan, jika tinggi badan si anak tidak terus bertambah atau kurang dari normal, itu menandakan bahwa kurang gizi pada anak tersebut sudah berlangsung lama. Sri menjelaskan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kurang gizi pada anak. Pertama, jarak antara usia kakak dan adik yang terlalu dekat ikut mempengruhi. Dengan demikian, perhatian si ibu untuk si kakak sudah tersita dengan keberadaan adiknya, sehingga kakak cenderung tidak terurus dan tidak diperhatikan makanannya. Oleh karena itu akhirnya si kakak menjadi kurang gizi. “Balita itu konsumen pasif, belum bisa mengurus dirinya sendiri, terutama ntuk makan,” tutur Sri. Kedua, anak yang mulai bisa berjalan mudah terkena infeksi atau juga tertular oleh penyakit-penyakit lain. Selain itu, yang ketiga adalah karena lingkungan yang kurang bersih, sehingga anak mudah sakit-sakitan. Karena sakit-sakitan tersebut, anak menjadi kurang gizi. Keempat, kurangnya pengetahuan orang tua terutama ibu mengenai gizi. “Kurang gizi yang murni adalah karena makanan,” kata Sri. Menurut Sri, si Ibu harus dapat memberikan makanan yang kandungan gizinya cukup. “Tidak harus mahal, bisa juga diberikan makanan yang murah, asal kualitasnya baik,” lanjut Sri. Oleh karena itulah si Ibu harus pintar-pintar memilihkan makanan untuk anak. Kelima, kondisi sosial ekonomi keluarga yang sulit. Faktor ini cukup banyak mempengaruhi, karena jika anak sudah jarang makan, maka otomatis mereka akan kekurangan gizi. Keenam, selain karena makanan, anak kurang gizi bisa juga karena adanya penyakit bawaan yang memaksa anak harus dirawat. Misalnya penyakit jantung dan paru-paru bawaan.


3.4 Upaya yang harus dilakukan

Bila kekuangan gizi, anak akan mudah sekali terkena berbagai macam penyakit, anak yang kurang gizi tersebut, akan sembuh dalam waktu yang lama. Dengan demikian kondisi ini juga akan mempengaruhi perkembangan intelegensi anak. Untuk itu, bagi anak yang mengalami kurang gizi, harus dilakukan upaya untuk memperbaiki gizinya. Upaya-upaya yang dilakukan tersebut antara lain adalah meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai gizi, melakukan pengobatan kepada si anak dengan memberikan makanan yang dapat menjadikan status gizi si anak menjadi lebih baik. Dengan demikian, harus dilakukan pemilihan makanan yang baik untuk si anak. Menurut Sri, makanan yang baik adalah makanan yang kuantitas dan kualitasnya baik. Makanan dengan kuantitas yang baik adalah makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan si anak. Misalnya, memberi makanan si anak berapa piring sehari adalah sesuai kebutuhannya. Dan akan lebih baik jika memberikan vitamin dan protein melalui susu. Bagi keluarga yang tidak mampu, bisa menyiasatinya, misalnya mengganti susu dengan telur. Kemudian, makanan yang kualitasnya baik adalah makanan yang mengandung semua zat gizi, antara lain protein, karbohidrat, zat besi, dan mineral. Upaya yang terakhi adalah dengan mengobati penyakit-penyakit.

3.5 Komponen Makanan Sehat

Kelompok makanan
Protein diperlukan untuk pertumbuhan, perbaikan, dan penggantian jaringan tubuh. Produk hewan seperti daging, ikan, telur, keju dan produk susu lainnya; amat banyak mengandung protein. Dari bahan nabati, antara lain kacang-kacangan (kacang hijau, kedelai, dan sebagainya).

Hidrat-arang untuk menambah energi, namun bila kelebihan akan disimpan dalam tubuh sebagai lemak. Yang banyak mengandung Hidrat arang adalah gula, beras, jagung, dan umbi-umbian.

Lemak juga merupakan sumber energi dan menghasilkan kalori lebih banyak dari makanan lainnya. Makanan yang banyak berlemak adalah yang berasal dari kacang-kacangan.

Serat adalah bahan yang tak dapat dicerna oleh sistem pencernaan. Tidak mengandung gizi atapun energi, hanya berguna untuk kelancaran kegiatan pencernaan.

Vitamin adalah bahan kimia kompleks yang diperlukan tubuh dalam jumlah sedikit. Anak makannya normal tak punya kecenderungan kekurangan vitamin.

Mineral dan garam-garam diperlukan dalam jumlah sedang. Termasuk didalamnya zat besi, potasium, kalsium, dan sodium (terdapat dalam garam meja). Seorang anak akan terhindar dari kekurangan zat-zat ini bila makanannya seimbang.

Kalori adalah satuan untuk mengukur besarnya nilai energi dalam makanan. Bila seorang memakan lebih banyak kalori dari yang dipakainya, sisanya akan disimpan sebagai lemak. Sebaliknya, bila lebih banyak energi dari yang dimakan, simpanan lemak itu akan dipakai dan tubuh akan tampak menjadi kurus. Makanan yang banyak mengandung lemak atau kalori umumnya bernilai kalori tinggi.


3.6 Saran diet

Umumnya makanan berprotein dari sumber hewani banyak mengandung lemak, jadi sebaiknya pilihlah yang berasal dari sumber nabati.
Dalam memilih makanan hidrat arang, sebaiknya pilihlah beras merah atau jagung yang mengandung serat serta zat lainnya, dibanding gula atau makanan jadi lain yang hanya mengandung energi.Usahakan sesedikit mungkin memakan makanan berlemak.Untuk mendapatkan serat, pilihlah makanan dari padi-padian, buah, dan sayuran. Vitamin bisa hilang bila makanan dimasak terlalu lama. Jadi sebaiknya makanlah sayuran sebagai lalapan dan buah mentah.
Terlalu banyak garam malah merugikan, jadi sebaiknya jangan terlalu banyak memakan garam-garaman. Makanan anak harus cukup mengandung kalori, namun jangan terlalu banyak. Untunglah bahwa mekanisme pengaturan nafsu makan anak-anak biasanya sudah menjamin cukupnya kalori dari makanannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar